anatomi,morfologi, dan fisiologi ikan nila dan tikus

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
SISTEMATIKA, ANATOMI,FISIOLOGI DAN MORFOLOGI
IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN TIKUS (Mus musculus)







FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010





1.      PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ikan termasuk hewan bertulang belakang (Vertebrata), bernafas dengan insang, habitat berada pada perairan. Ikan bergerak dan menjaga kesetimangan tubuhnya dengan menggunakan sirip-sirip. Morfologi ikan ada bermacam-macam, tetapi morfologi dasar adalah terdiri dari badan, kepala, dan juga ekor. (Daniswara,2009) .
Ikan adalah komoditi yang digunakan sebagai sumber pangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan adanya pemanfaatan hasil perikanan di Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal baik dalam pemanfaatan untuk konsumsi maupun pemanfaatan ekonomi masyarakat serta bahan atau objek penelitian. (Soffah, 2010) .
Sistem organ – organ pada tikus sama dengan manusia , sehingga pada praktikum tentang morfologi, anatomi dan fisiologi menggunakan tikus sebagai percobaan. (Daniswara,2009) .

1.2  Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah agar mengetahui sistematika, fisiologi, morfologi dari ikan Nila dan Tikus.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui sitematika, morfologi, fisiologi dan anatomi dari ikan nila (Oreocromis niloticus) dan tikus (Mus musculus)

1.3  Waktu dan Tempat
Praktikum biologi dasar tentang sistematika, morfologi, fisiologi dan anatomi dari ikan nila dan tikus ini dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 09 Oktober 2010, pada pukul 11.30 sampai 13.00 WIB, dan bertepatan di gedung C Lantai 1, Labolatorium IIP (Ilmu-Ilmu Perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.






2.      TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh dan memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari sungai nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini tersebar kenegara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropics. Nama ilmiah dari ikan nila adalah Oreochomis niloticus dan dalam bahasa inggris dikenal sebagai Nile Tilopia. (Anonymause,2008).
Gambar ikan ni







(Chaindonesia,2009)
(Meitanisyah,2010)






2.1.1 Klarifikasi ikan
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas (class) : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Familia : Cichildae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis sp.
Spesies : Oreochromis niloticus
( Taksonomi, 1995 )

2.1.2 Morfologi dan Anatomi Ikan Nila
1. Morfologi Ikan Nila
Ikan ini memiliki ciri fisik badan dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 banding satu. Sirip punggung dengan 16-17 duri tajam dan 11-15 duri lunak dan dubur dengan 3 duri dan 8-11 jari –jari. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita hitam belang yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris – garis tegak, 7-12 sirip punggung dengan warna merah kemerahan atau kekuningan saat musim berbiak. ( wikipedia, 2009 ) .
2. Anatomi Ikan Nila
Menurut Ainun nimah (2009), ada 1o sistem anatomi pada tubuh ikan :
1.   Sistem penutup (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber- sumber pewarnaan.
2. Sitem otot (urat daging) : penggerak tubuh, siri-sirip, insang, organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot, pelindung organ –  organ dalam dan penggerak tubuh tulang tengkorak, tulang punggung, tulang rusuk, visceral (tulang penyokong insang), appendicular (tulang penyokong sirip), tulang – tulang penutup insag (operculum, sub eprculum, pre operculum, dan interculum).
4.      Sustem pernafasan (respirasi): ikan nila mengambil O2 dari perairan yang dibutuhkan untuk proses metabolismr. Organ – organ tersebut adalah insang yang terdiri dari tulang lengkung insag, tulang tipis insang dan dan insang.
5.      Sistem peredaran darah sirkulasi) : organnya adalah jantung dan sel – sel darah yang berfungsi untuk mengedarkan O2, nutrisi, dsb.
6.      Sistem pencernaan : organ – organ saluran pencrnaan dari arah depan atau nterior ke arah belakang berturut – turut adalah mulut atau rongga mulut, esofagus, lambung, usus pilorus dan pilotik saeka ) dan organ – organ tambahan antara lain kelenaja empedu, dan kelenjar pankreas
7.      Sistem saraf : organnya otak an saraf tepi.
8.      Sistem hormon : hormon dihasilkan oleh kelenjar – kelenjar hormon ; hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon ekskresi, dan osmoregulasi.
9.      Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organnya terutama ginjal
10.  Sistem reproduksi :organ – organ reproduksi meliputi organ kelamin (gonad) yang menghasilkan sel – sel kelamin gamet). Gonad jantan menghasilkan spermatozoa melalui sepasang testis kiri dan kanan dan gonad betina menghasilkan sel telur melalui ovarium.

2.1.3 Sistem Pencernaan
Pencernaan pada ikan berlangsung secara fisik dan kimiawi. Pencernaan secara fisik dimulai dari bagian rongga mulut yaitu dengan beberapa gigi dalam proses pemotongan dan penggurusan makanan. Pencernaan mekanik ini juga berlangsung di segmen tambung dan usus yaitu melalui gerak-gerak (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan mekanik di segmen lambung dan usus terjadi secara lebih efektif oleh karena adanya peran cairan ‘’digestif’. (wikipedia, 2009)

2.1.4 Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi ialah sistem untuk mempertahankan spesies dangan menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi ialah urutan proses perkembangan dari zigot sampai pada anak ikan dst. Organ reprduksi daintaranya organ kelamin (gonad) menghasilkan sel kelamin (gamet) yaitu spermatozoa (gonad jantan), biasanya sepanjang kiri dan kanan lalu menghasilkan pula telur (gonad betina) yaiu ovari/ovarium. (ainun,2009 ).

2.1.5 Sistem Ekskresi
Ikan memiliki sistem ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut lubang urogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran ginjal dan yan g berada tepat di belakang anus. Ginjal pada ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glomelurus sehingga perisa hasil metabolisme berjalan lambat dibandingkan ikan air tawar.           (ka.462, 2008 ).

2.1.6  Jenis Bagian dan Fungsi
1. Sisik Koloid
Hanya dijumpai pada ikan bangasa crossopterygi yang telah punah. Sisik ini
berlapis-lapis dimana lapisan terdalam terbangaun dari tulang yang memipih.
2. Sisik Gonoid
Diitemukan pada ikan suhu lepisosteidane dan polyteride. Sisik ini serupa dengan sisik kosmoid dengan sebuah lapisan gemoin terletak diantara lapisan kasmin dan enamed.
3. Sisik Plakoid
Dimiliki oleh ikan hiu dan ikan bertulang belakang rawan lainnya.
4. Sisik leptoid
Didapati pada ikan yang bertulang belakang keras dan memiliki 2 bentuk. Sisik sikoloid dan sisik klenoid. ( The Diversity of Fishers, 1997 ) .

2.1.7 Jenis Caudal
Ø   Caudal Rounden
Ø  Caudal renagmed
Ø  Caudal pointed
Ø  Caudal ransel
(Anonymause, 2009)











2.2 Tikus
Tikus yang dalam klasifikasinya dimasukan kedalam sub filum vertebrata ( hewan-hewan beruas tulang belakang ), kelas mamalia (hewan- hewan menyusui ), ordo rodentia ( hewan-hewan yang mengerat ) dan family murridae yang merupakan salah satu hama yang penting pada tanaman pertanian (pangan,horticulur,dan perkebunan). (Anonymous, 2009)
Gambar Tikus





  (  hikmahtinta, 2010 )                                                      (sofeamohamed,2008)

2.2.1 Klasifikasi
  1. Kerajaan          : Animalia
  2. Fillum              : Chordata
  3. Kelas               : Mamalia
  4. Ordo                :  Rodentia
  5. Super family    : Muroidae
  6. Familnya         : Muridae
  7. Sub suku         : Murinae
  8. Genus              : Mus
  9. Species            : Musculus


2.2.2 Morfologi dan Anatomi
Tikus rumah memiliki panjang 65-95 mm dari ujung hidung mereka ke ujung tubuh mereka. Bulu mereka berkisar dalam warna dari coklat muda sampai hitam dan pada umunya memiliki warna putih. Tikus memiliki ekor panjang yang memiliki sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik. Tikus rumah cenderung memiliki panjang bulu ekor lebih gelap ketika hidup erat dengan manusia, mereka berkisar 12-30 gram berat badanya. Banyak bentuk-bentuk domestik tikus telah dikembangkan yang bervariasi dalam warna dari putih menjadi hitam dan dangan bintik-bintik. (Syariffauzi, 2009 ).

2.2.3 Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan atau kelenjar-kelenjar yang berhubungan, fungsinya untuk :
a). Ingesti dan Digesti makanan.
b). Absorbsi sari makanan.
c). Eliminasi sisa makanan.
Langkah-langkah pproses pencernaan makanan :
1). Pencernaan di mulut dan di rongga mulut,makanan di giling menjadi kecil-kecil oleh gigi dan di basahi oleh saliva.
2). Disalurkan melalui foring dan asophogus.
3). Pencernaan di lambung dan di usus halus. Dalam usus halus diubah menjadi asm-asam amino, monosakarida, gliserida, dan unsur-unsur dasar yang lain.
4). Absorsi air dlam usus besar akibatnya, isi yang tidak dicerna
Menjadi setengah padat (feses).
5). Feces dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka (bila ada)
Kemudian ke anus. (Iqbal , 2007) .

2.2.4 Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi mamalia hampir sam dengan manusia, tetapi sedikit berbeda yang di sebabkan oleh liingkun tempat tinggalnya. Paru-paru terletak di dalam rongga dada, di lindungi oleh struktur selangka dan di selaputi karung di dinding dikenal sebagai pelura. Bernafas kebanyakan dilakukan olh diagfragama paru-paru berada mengembang. Sangkar selangka juga boleh menguncup sedikit ini menyebabkan udara tertarik ke dalam keluar paru-paru melalui frakhea dan broknial tubes yang bercabang dan mempunyai alveolus di ujung yaitu karung kecil di kapilari yang penuhi darah. disini oksigen meresap banyak masuk kedalam darah, dimana akan di angkut oleh hemoglobin. (Ka ,462, 2008).

2.2.5 Sistem Reproduksi
a). Tahap pembentukan spematozoa di bagi atas 3 tahap yaitu :
1. Spermatogenesis.
Meupakan tahap spermatogenea yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosot primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti sel nya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit skunder.
2. Tahapan meiosis
Spermatosid primer, menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis 1, yang kemudian diikuti dengan meiosis 2.
3. Tahapan spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang memiliki 4 fase yaitu fase golgi, fase tulup, fase akrosom, dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masuk. (Iqbal, 2008).


















3.      METODOLOGI

3.1 Nila
3.1.1 Alat dan Fungsi
·         Sectio set                     : Peralatan untuk pembedahan
·         Nampan (plastic)         : Tempat wadah ikan sebelum dilakukan pembedahan
·         Kamera (digital/hp)     : Mengambil gambar dari pengamatan
·         Jarum pentul                : Mengambil bagian terkecil suatu objek
·         Cover Glass                 : Untuk menutup obyek
·         Mikroskop Binokuler  : Untuk mengamati obyek pengamatan dan gerakan yang sangat halus tidak terlihat mata.
·         Lap basah                    : Untuk membius ikan
·         Beaker glass                : Sebagai wadah dari aquadest
·         Obyek glass                 : digunakan untuk meletakkan obyek

3.1.2 Bahan-Bahan dan Fungsi
·         Ikan Nila         : Sebagai bahan pengamatan
·         Aquadest         : Penfiksasi obyek
·         Tissue              : Untuk membersihkan peralatan yang telah digunsksn





3.1.3 Skema kerja










Ikan Nila



























3.2 Tikus
3.2.1 Alat dan Fungsi
·         Sectio set         : Sebagai alat untuk melakukan pembedahan
·         Sterofoam       : Tempat untuk melentangkan tikus sebelum dibedah
·         Jarum Pentul   :Mengambil bagian terkecil suatu obyek dan untuk meleentangkan tikus
·         Kain lap           : Untuk membersihkan meja labolatorium
·         Kamera (digital/hp)     : Mengambil gambar dari pengamatan
3.2.2 Bahan dan Fungsi
·         Tikus              : Sebagai bahan pengamatan
·         Aquadest        : Penfiksasi obyek
·         Choloform      : Untuk membius tikus
·         Kapas             : Untuk mengambil etanol karena bersifat menyerap larutan


Diamati bagian luar tikus
3.2.3 Skema Kerja














           








4.      PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan



Jenis-jenis sisik dan fungsi  berdasarkan Dani (2009), yaitu :
1.      Sisik koloid
Hanya dijumpai pada ikan bangsa crosspiergi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis dimana lapisan terdalam terbangun dan tulang yang memipih.
2.      Sisik gonoid
Ditemukan pada ikan suhu lipisoterdone dan polytende. Sisik ini serupa dengan sisik kosmoid dengan sebuah lapisan gemoin terletak diantara lapisan kasmin dan enamed.
3.      Sisik plakoid
Dimiliki oleh ikan hiu dan ikan bertulang rawan lainnya.
4.      Sisik leptoid
Didiapat pada ikan yang bertulang belakang keras dan memiliki 2 bentuk sisik sikloid dan sisik klonoid.


















Gambar insang

Gambar tulang insang


Gambar Sirip ikan

Gambar sisik
4.2       Analisa Prosedur
4.2.1 Ikan Nila
   Pertama kali hal yang harus dilakukan adalah dipersiapkan alat dan bahan. Pada percobaan pertama yaitu ikan nila. Sebelum dibedah diambil ikan nila dari aquarium,setelah itu diletakkan diatas nampan dimeja laboratorium dengan menggunakan alas kain dengan tujuan agar ikan tetap bisa bernafas karena kain lap dibasahi oleh air dan agar meja laboratorium tetap bersih. Lalu ikan nila dibunuh dengan cara ditusuk pada bagian kepala atau pada bagian otak ikan nila tersebut karena medulla oblongata menjadi sistem pusat saraf. Setelah itu amati bagian dalam ikan dengan menggunakan pinset agar mudah didalam pengamatan. Lalu catat hasilnya dan gambar. Pada sisik ikan diamati dengan mikroskop untuk melihat pada struktur ikan.
     4.2.2 Tikus
Pada percobaan kedua yaitu tikus. Sebelum tikus dibedah,tikus dimatikan terlebih dahulu dengan larutan chlorofoam. Fungsi dari chlorofoam yaitu sebagai alat bius untuk membius tikus. Setelah tikus mati,bedah tikus dengan menggunakan gunting dan diusahakan tidak mengenai organ dalamnya,jika mengenai organ dalam tersebut tidak akan bisa diamati. Setelah itu kulit tikus dikuliti menggunakan silet. Dan kulit tikus direntangkan diatas streofoam dengan bantuan jarum pentul. Setelah itu diamati dengan mikroskop untuk melihat pada struktur tikus dan digambar hasilnya.
     4.2.3 Sisik Ikan
  Pertama preparat sisik ikan yang sudah disiapkan segera diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroskop diatur sebagaimana mestinya mulai dari mencari fokus sehingga dapat dilihat bagaimana struktur sisik ikan dengan jelas. Selanjutnya hasil pengamatan digambar.


4.3 Analisa Hasil
      4.3.1 Pada percobaan statistika,morfologi,anatomi,dan fisiologi diperoleh hasil sebagai berikut. Pada ikan nila setelah dibedah tampak bagian organ dalamnya yaitu insang,hati,lambung,usus,pankreas,dan gelembung renang. Bagian tubuh ikan nila terdiri atas caput (kepala),tunchus (badan),dan caudal (ekor). Antara trunchus dan caput tidak terdapat batas yang nyata. Dalam tubuh ikan nila selalu berlendir yang berfungsi untuk mempermudah gerakan ikan dalam air dan membantu menghindari serangan predator maupun jamur/parasit. Selain organ dalam terdapat juga organ bagian luar yaitu seperti sirip dan sisik. Pada ikan nila terdapat 5 macam sirip  yaitu sirip punggung,sirip ekor,sirip perut,sirip dubur dan sirip dada. Sedangkan sisik pada ikan nila disebut cetenoid terdapat focus,srerill dan radius. Fungsi sisik pada ikan yaitu untuk mengetahui ikan,klasifikasi ikan, dan untuk megetahui suspensi ikan. Fungsi sirip yaitu menyeimbangkan tubuh ikan dan mempermudah gerakan pada saat berenang. Adapun insang yang terdiri dari filament:untuk menyaring makanan,arch:untuk menyokong filament,rakes untuk mengetahui jenis makanan ikan tersebut. Kita juga dapat mengetahuisistematika pencernaan pada ikan nila,yaitu mulut kerongkongan menuju lambung kemudian ke usus dan berakhir di anus
      4.3.2          Pada tikus terdapat organ-organ yaitu paru-paru yang dilindungi diafragma,terdapat lambung yang tersambung dengan usus,terdapat hati. Sistematika pencernaan tikus yaitu dari rongga mulut menuju esofagus lalu menuju lambung setelah itu ke usus halus dan usus besar,berakhir di kloaka.
                 Dari klasifikasi tikus itu sendiri dimasukkan ke dalam sub-sub filum vertebrata (hewan-hewan beruas tulang belakang),kelas mamalia (hewan menyusui),ordo rodentia (hewan yang mengerat) dan family mundae yang merupakan salah satu hama penting pada tanaman pertanian. Morfologi tikus dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala dan badan (Irvandra,2009)
                        Secara umum morfologi tubuh tikus terbagi:
1.      Kepala
      Bentuk kepala tikus adalah kerucut atau kerucut terpton,dengan kumis pada ujung moncongnya yang berfungsi sebagai alat peraba. Mata terletak dibagian tepi kepala dan menonjol keluar. Gigi tikus terdiri dari gigi seri dan geraham yang berfungsi untuk mengeluarkan kotoran yang terbawa bersama makanannya atau untuk mengeluarkan yang tidak disukainya.

2.      Badan
      Bentuk badan tikus adalah silindris memanjang kebelakang. Batas antara kepala dan badan tidak begitu jelas. Pada telapak kaki terdapat tonjolan yang berfungsi membantu tikus untuk memanjat. Ekor tikus tidak berambut,merupakan ciri yang membedakannya dengan landak atau tupai.

4.3.3    Sisik Ikan
                        Sisik ikan pada ikan nila dan pada umumnya terdiri dari fokus,stenil,radius. Hal ini sesuai dengan pengamatan dan literatur.
















5.      PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
            -Ikan nila (oreochromis niloticus)termasuk hewan vertebrata
-Ikan nila mempunyai ciri khusus yaitu inter muscullus born,ususnya panjang,terdapat lapisan  lemak
-Ikan ini merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih disamping dan warna kehitaman
-Seluruh badan ikan nila mempunyai sisik dan mempunyai gurat sisik
-Sistem reproduksi pada ikan nila berupa ginjal dan lubang orogenital
-Tikus termasuk jenis hewan vertebrata
-Organ dalam tubuh tikus mirip dengan manusia
-Sistem kelenjar-kelenjar pencernaan berhubungan
-Sistem ekskresi tikus (mamalia) hampir sama dengan manusia
-Sistem reproduksi tikus dibagi menjadi 3 yaitu :
            *Spermatogenesis
            *Tahap meiosis
                        *Tahap spermiogenesis



5.2  Saran
Pada kegiatan praktikum ini sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan dipersiapkan terlebih dahulu agar praktikum dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikum agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan,agar saat praktikum berlangsung dapat berjalan dengan lancar.



















DAFTAR PUSTAKA

Daniswara,2009. Laporan praktikum. Diakses pada http://google.org.com pada tanggal 07 Oktober 2010 pukul 11.07 WIB
Hikmahtinta,2010. Diakses pada http://google.images.com pada tanggal 10 Oktober 2010 pukul 7.00 WIB
Wikipedia,2010. Ikan nila. Diakses pada http://wikipedia.org.com pada tanggal 8 Oktober 2010 pukul 6.03 WIB

sel


1.      PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Kata “sel” sendiri berasal dari kata dalam bahasa latin “cella” yang artinya adalah “ruang kecil”. Nama ini dipilih oleh Robert Hooke karena ia melihat adanya kesamaa antara sebuah sel dan sebuah ruang kecil. Setiap sel memenuhi kebutuhannya sendiri dan merawat dirinya sendiri pula (Iman Hikmatul, 2005).
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur  dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi (wikipedia, 2010).

1.2.       Maksud dan Tujuan
Maksud praktikum biologi dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya untuk dapat mengetahui cirri-ciri dan perbedaan antara sel tumbuhan dan sel hewan.
Maksud praktikum biologi dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya adalah untuk memahami ciri-ciri sekaligus perbedaan antara sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya serta menerapkan penggunaan mikroskop dengan baik dan tepat.

1.3.       Waktu dan Tempat
Praktikum Bologi Dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya ini dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 01 Oktober 2010, pada pukul 11.30 sampai pukul 13.00 WIB, dan bertempat di gedung C lantai 1 laboratorium IIP (Ilmu-Ilmu Perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya,Malang.




2.      TINJAUAN PUSTAKA

2.1.       Pengertian Sel
Pada umumnya sel itu bersifat mikroskopis, misalnya ovum dari bangsa burung dari beberapa alga. Besarnya dibatasi oleh membran. Suatu sel yang sangat aktif melakukan metabolisme tidak akan mempunyai volume yang besar. Dua bagian yang pokok dari sel adalah sitoplasma dan nukleus. Sitoplasma sebagai suatu zat cair yang kental, befungsi untuk sel, mitkondria, badan golgi, kloroplas, glanulaan pigmen (Amiruddin, 1989).
Sel itu hidup dan saling bekerja sama satu dengan yang lain untuk melakukan fungsi hidup. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia tersusun atas kumpulan sel-sel. Sel-sel berkelompok membentuk suatu jaringan, dan kemudian jaringan-jaringan akan menyusun organ. Organ mempunyai beragam bentuk dan fungsi. Organ-organ tersebut saling berkaitan satu sama lain untuk membentuk suatu sistem. Sistem organ inilah yang akan membentuk organisme baru. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sel merupakan tingkatan terendah dari organisme kehidupan (Hariri, 2010).
Setiap sel bergantung pada sel-sel yang lain untuk melakukan fungsi-fungsi yang tidak dapat dilakukan sendiri contohnya adalah sel saraf dengan cepat meneruskan sinar listrik ke dalam tubuh tetapi bergantung seluruhnya pada sel-sel darah merah untuk memberikan oksigen yang amat diperlukannya (Kimball, John.W,1990).

2.2.       Bentuk-bentuk Sel dan Contohnya
Pada sel hewan bentuknya tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel, sehingga membran sel dapat bergerak dengan bebas.
Pada tumbuhan bentuknya tetap karena memiliki dinding sel sehingga gerakan membran terbatas.
Sel bisa berbentuk :
-          Batang         (basil)
-          Bulat            (coclus)
-          Oval dan Spiral
(Daniwara,2009).

2.3.       Bagian-bagian Sel dan Fungsinya
Berikut adalah bagian-bagian dari sel beserta fungsinya :
a)         Dinding sel                               : pelindung, pemberi bentuk sel
b)        Membran plasma                      : mengatur arus keluar masuk zat
c)         Sitoplasma                                : cairan yang mengisi bagian-bagian sel
d)        Nukleus (inti sel)                      : mengatur segala aktivitas sel
e)         Ribosom                                   : tempat sintesis protein
f)         Retikulum Endoplasma            : saluran yang menghubungkan inti dengan plasma
g)        Mitokondria                              : tempat respirasi sel
h)        Badan golgi                              :
-     membungkus, mengepak dan menggetahkan zat keluar sel
-          merombak lisosom
-          memperbaiki dan membuat membran sel
i)        Lisosom                             :
-          merombak berbagai molekul kompleks sehingga menjadi sederhana
-          merombak karbohidrat serta lemak menjadi bagian yang bisa diserap oleh tubuh
-          memakan benda asing
j)          Vakuola                            : pencerna makanan  dan sisa makanan
k)        Mikrotubulus                    : rangka sel
l)          Mikrofilamen                   : berkaitan dengan pergerakan sel
(Rachman, Dedi M dan Nurwiati, Septjih, 2007).

2.4.       Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan
            Dari hasil pengamatan diperoleh perbedaan antara sel hewan dengan sel tumbuhan, yaitu :

Sel Hewan
Sel Tumbuhan
·         Struktur Khusus


-          Dinding Sel
-
V
-                                       Membran Sel
V
V
-          Flagela
Mungkin punya
Tidak ada, kecuali di sperma beberapa spesies
·         Struktur Umum


-          Retikulum Endoplasma
V
V
-          Ribosom
V
V
-          Mikrobulus
V
V
-          Sentriol
V
-
-          Badan golgi
V
V
-          Nukleus
V
V
-          Mitokondria
V
V
-          Kloroplas
-
V
-          Kromosom
Multiple : DNA-protein kompleks
Multiple : DNA-protein kompleks
-          Lisosom
V
V
-          Vakuola
Tidak punya atau kecil
Biasanya sebuah vakuola berukuran besar
(Roven, Peter H dan Johnson, George B, 1998)








3.      METODOLOGI

3.1.       Alat dan Fungsi
Pada praktikum biologi dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya alat yang dipergunakan yaitu :
·      Mikroskop Binokuler                  : untuk mengamati objek pengamatan dan gerakan yang sangat halus yang tidak terlihat dengan mata telanjang
·      Objek glass                                  : digunakan untuk meletakkan objek
·      Kamera (Digital/HP)                   : mengambil gambar dari pengamatan
·      Silet                                             : mengiris bahan
·      Cover glass                                  : untuk menutup objek yang diletakkan diatas objek glass
·      Pinset                                          : mengambil bagian kecil dari objek
·      Jarum pentul                                : mengambil jaringan terkecil dari objek
·      Beaker glass                                : sebagai wadah dari aquadest, larutan Y-KY, Lugol, Methilen biru
·      Pipet tetes                                   : untuk menetesi objek

3.2.       Bahan dan Fungsi
Pada praktikum biologi dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya bahan yang dipergunakan yaitu :
·         Kentang dan Ketela pohon           : sebagai bahan pengamatan
·         Kulit umbi bawang merah             : sebagai bahan pengamatan
·         Spora paku-pakuan                       : sebagai bahan pengamatan
·         Paramecium dan Mucor                : sebagai bahan pengamatan
·         Ephitellium Squamosum Pipi        : sebagai bahan pengamatan
·         Larutan Y-KY      : penfiksasi objek yang mengandung objek
·         Aquadest               : penfiksasi objek daun hydrilla dan bawang merah
·         Daun hydrilla        : sebagai bahan pengamatan
·         Irisan gabus           : sebagai bahan pengamatan
·         Lugol                     : penfiksasi objek pengamatan paramecium
·         Methilen biru         : penfiksasi objek pengamatan Ephitellium Squamosum Pipi
·         Tissue        : untuk membersihkan alat praktikum yang telah digunakan

3.3.       Skema
A.      Tepung kentang dan ketela pohon
Menyiapkan jarum pentul untuk menaruh tepung pada objek glass
Disiapkan bahan Y-KP dan diteteskan pada tepung

Diamati dengan pembesaran 400 X


HASIL
 




B.       Irisan Gabus dan Kulit Umbi Bawang Merah
Disiapkan silet lalu iris gabus dan kulit umbi bawang merah dengan tipis
Ditetesi air

Diamati dengan pembesaran 400 X


HASIL
 









C.       Spora dan Paku-pakuan
Disiapkan jarum pentul, spora paku-pakuan

Ditetesi dengan 1-2 tetes air

Diamati di bawah mikroskop


HASIL
 





D.      Mucor
Dibiarkan mucor dari air tawar dibiarkan dalam udara

Diletakkan diatas objek glass

Diamati dengan mikroskop


HASIL
 





E.       Daun Hydrilla
Diambil daun Hydrilla

Ditetesi air

Diamati aliran sitoplasma sel daun hydrilla


HASIL
 







F.        Paramecium
Diambil kultur air jerami dengan pipet

Diamati gerakannya

Diamati di bawah mikroskop


HASIL
 





G.      Ephitellium Squamosum Pipi
Diambil dengan batang korek api

Dioleskan diatas glass objek
HASIL
 













4.      PEMBAHASAN

4.1.       Data Hasil Pengamatan

-          Sel Kentang

-          Paramecium

-          Ephitel squamosum pipi

-          Irisan gabus

-          Hydrilla

-          Kulit umbi bawang merah


4.2.       Analisa Prosedur
-       Kentang
Pertama, kentang disayat tipis-tipis dengan menggunakan silet lalu diletakkan pada objek glass dan ditetesi dengan larutan Y-KY yang berfungsi untuk menfiksasi objek yang mengandung karbohidrat. Kemudian ditutup dengan cover glass secara perlahan.
Pada saat menetesi larutan dengan pipet tetes, kemiringan harus 45° dengan objek glass agar tidak terjadi gelembung udara. Dan penutupan secara perlahan juga untuk menghindari terjadinya gelembung udara. Gelembung udara dapat mengganggu penghlihatan terhadap objek. Selanjutnya kentang diamati bentuk dan susunan selnya, lalu digambar.
-       Paramecium
Pertama, paramecium diambil dengan pipet tetes dari air kultur jerami. Kemudian diletakkan pada objek glass. Objek paramecium lalu ditetesi dengan larutan lugol dengan kemiringan pipet tetes sebesar 45° dengan objek glass agar tidak terjadi gelembung udara. Larutan lugol berfungsi untuk menfiksasi paramecium agar dapat terlihat jelas ketika diamati dengan mikroskop. Lalu objek ditutup dengan cover glass secara perlahan agar tidak terjadi gelembung udara yang dapat mengganggu pengamatan. Selanjutnya paramecium diamati bentuknya dan digambar.
-       Hydrilla
Pertama, daun hydrilla diambil sedikit dan diletakkan diatas objek glass. Lalu ditetesi dengan aquadest dengan kemiringan pipet tetes sebesar 45° dengan objek glass agar tidak terjadi gelembung udara. Larutan aquadest berfungsi untuk menfiksasi objek kemudian ditutup dengan cover glass secara perlahan agar tidak terjadi gelembung udara. Gelembung udara dapat mengganggu pengamatan terhadap objek. Selanjutnya hydrilla diamati bentuk dan susunan selnya dan digambar.
-       Ephithelium squamosum pipi
Pertama mengambil batang korek api, kemudian dimasukkan ke dalam pipi bagian dalam manusia. Untuk mengambil Ephitelium Squamosum pipi. Lalu dioleskan pada objek glass. Kemudian ditetesi dengan larutan methilen blue agar difiksasi sehingga terlihat jelas ketika diamati. Pipet tetes harus dimiringkan sebesar 45° dengan cover glass perlahan agar tidak terjadi gelembung udara. Gelembung udara dapat mengganggu pengamatan, selanjutnya objek diamati dan digambar.
-       Irisan gabus
Pertama, gabus diambil dengan pinset dari dalam batang ketela pohon. Kemudian diletakkan pada objek glass dan ditetesi dengan aquadest agar difiksasi sehingga jelas untuk diamati. Pipet tetes harus miring 45° dengan objek glass agar tidak terjadi gelembung udara, lalu ditutup dengan cover glass perlahan agar tidak terjadi gelembung udara juga. Gelembung udara dapat mengganggu pengamatan objek.
-       Kulit umbi bawang merah
Pertama, bawang merah disayat dengan silet tipis. Lalu diletakkan dengan direntangkan diatas objek glass. Lalu ditetesi dengan aquadest agar difiksasi sehingga terlihat jelas. Kemiringan pipet tetes sebesar 45° dengan objek glass agar tidak terjadi gelembung udara. Lalu ditutup dengan cover glass perlahan agar tidak terjadi gelembung udara yang dapat mengganggu pengamatan. Selanjutnya bawang diamati selnya dan digambar.

4.3.       Analisa Hasil
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dilihat bahwa pada sel tumbuhan dan sel hewan terdapat perbedaan bentuk dan susunan. Pada sel tumbuhan bentuk sel terlihat tetap dan tersusun rapi. Hal ini disebabkan pada sel tumbuhan terdapat dinding sel sehingga bentuk sel tumbuhan tetap. Hal ini dapat dilihat pada contoh gambar sel irisan gabus, sel kentang, kulit umbi bawang merah, dan hydrilla.
Sedangkan pada sel hewan bentuk sel terlihat tidak tetap (tidak berbentuk) dan tersusun tidak rapi. Hal ini disebabkan pada sel hewan tidak terdapat dinding sel sehingga bentuknya tidak tetap. Hal ini dapat dilihat pada contoh gambar sel Ephitelium Squamosum pipi dan Paramecium.
Selebihnya didapatkan perbedaan sel, yaitu :
No.
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Bentuk tidak tetap
Punya sentrosom
Tidak ada plastida
Sel kecil
Cadangan makanan lemak
Tidak punya dinding sel
Vakuola banyak dan kecil
Bentuk tetap
Tidak punya sentrosom
Ada plastida
Sel besar
Cadangan makanan karbohidrat
Punya dinding sel
Vakuola sedikit dan besar

Adapun perbandingan antara hasil pengamatan dan literatur yang dibuat oleh Kimball pada tahun 1990 adalah sama, yaitu :
No.
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Bentuk tidak tetap
Punya sentrosom
Tidak ada plastida
Sel kecil
Cadangan makanan lemak
Tidak punya dinding sel
Banyak mitokondria
Bentuk tetap
Tidak punya sentrosom
Ada plastida
Sel besar
Cadangan makanan karbohidrat
Punya dinding sel
Sedikit mitokondria

Serta perbandingan antar hasil pengamatan dengan literatur tentang bentuk sel yang dibuat oleh Daniswara pada tahun 2009 adalah sama, yaitu pada sel hewan bentuknya tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel, sehingga membran sel dapat bergerak dengan bebas. Pada tumbuhan bentuknya tetap karena memiliki dinding sel sehingga gerakan membran sel terbatas. Sel bisa berbentuk batang, bulat oval dan spiral.

















5.      PENUTUP

5.1.       Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum biologi dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya dapat disimpulkan bahwa :
-       Sel merupakan penyusun struktur kehidupan yang paling kecil.
-       Sel hewan bentuknya tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel sehingga membran sel dapat bergerak bebas.
-       Sel tumbuhan memiliki bentuk tetap karena memiliki dinding sel sehingga gerakan membran sel terbatas.
-       Bentuk sel antara lain pipih, memanjang.
-       Bagian-bagian sel antara lain membran plasma, Retikulum Endoplasma, Ribosom, Mitokondria, Nukleus, Lisosom, Vakuola, Kloroplas, dan Aparatus golgi.
-       Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan :
No.
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Bentuk tidak tetap
Punya sentrosom
Tidak ada plastida
Sel kecil
Cadangan makanan lemak
Tidak punya dinding sel
Bentuk tetap
Tidak punya sentrosom
Ada plastida
Sel besar
Cadangan makanan karbohidrat
Punya dinding sel

5.2.       Saran
Setiap pengamatan harus dilakukan dengan teliti untuk mendapat hasil yang maksimal. Dalam proses pengamatan objek dengan menggunakan mikroskop pengatur fokus sebaiknya dilakukan dengan pelan-pelan.







DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk. 2002. Biologi. Jakarta : Erlangga
Kimball, W. John. 1983. Biologi. Jakarta : Erlangga
Johnson, Raven. 2002. Biology. USA : The Megraw Hill Companies, Inc.
Soemartono, dkk. 1983. Biologi umum 1. Jakarta : Djambatan
Stansfield, dkk. 2006. Biologi Molekuler dan Sel. Jakarta : Erlangga
Daniswara. 2009. Mikroskop. http://wordpress.com. Sabtu, 02 Oktober 2010.